LAUNGAN KE 50 X 3 KALI (bersediakah kita)

September 30, 2007 at 4:21 pm (puisiku) ()

 Siapa itu?

David Albuqueque Kiroro!

Tauke Belanda Kaya,

Yang hidung mancung bergaya,

Dan mata sepet meliar,

Itu gadis-gadis kita gemar!

Kacukan hidung bengkok,

Dan kacukan Jepun kontot! 

Ah,

Minta ampun minta maaf,

Kalau ada lagi yang cuba,

Membuka silat Harimau Malaya,

Ala Hang Tuah,

Di depan bendera bersilang patah,

Dan berbulat merah,

 Aku ini,

Bukan nak menyumpah pertiwi,

Laksana mahsuri,

Tetapi meneka teka-teki,

Anak sendiri,

Yang semakin ke kiri dan ke kiri,

 Kasihan bapa-bapa dan atuk-atuk,

Anak dan cucu makin bongok,

Tertunduk-tunduk lentok,

Pada “botox”,

Dan ditolaknya “cencaluk”,

Dan mula tak senang duduk,

Bila saja sambal petai,

Dimasak menjadi lauk,

 Ah,

Di pentas teater juga,

Tempat kita menempelak karya pujangga,

Tempat kita berpencak silat tegar bersenjata,

Berdiri di hadapan penjajah lakonan,

Yang orangnya orang kita,

Beranilah……  

 Berdesing telinga pada cucukan,

Tajam hunus panjang pedang,

Tembus ke perut Adnan,

Tatkala anak wayang seniman,

Cuba berlakon ala-ala pejuang,

Konon,

Masih ingat zaman British dan Nippon, 

Aduh,

Mana pergi adat pusaka Timur,

Melutut merayu menyembah daulat patuh,

Tunduk malu duduk bersimpuh,

Tak pernah mendongak langit biru,

Menghadap orang-orang tua lanjut umur,

Bahkan tangan dihulur,

Jalan bongkok tertunduk-tunduk,

 Kalau begini akar umbi bangsa pertiwi,

Tak ingat dan terlupa adat pusaka sendiri,

Janganlah bermimpi,

Berdiri di atas matahari,

Kalau masih tercucuk duri,

Ketika jari membuka durian sebiji,

 Entah bagaimana rentak kaki,

Bila disuruh kawad kaki,

Kiri kanan kiri,

Bila umur setengah dekad,

Langsung tak mengerti adat,

Apatah lagi maksud jihad, 

Tidak bererti warna biru berpadu,

Andai kengkang kaki mengharu biru,

Tak serentak tak teratur,

 Jangan ditambah derita Pak Lah,

Melihat telatah bangsa cepat lelah,

Dan terdampar cepat kalah,

Luntur warna membara merah,

Pada panji gagah gemilang,

Tanda berkabung,

Melihat bangsa mudah menyerah, berundur,    

Walau sudah 50 kali 3,

Dilaung berulang kali,

Kita masih tidak mengerti,

Adat jangan dijual beli,

Darah pertiwi,

Jangan diejek dikeji,

Tokoh bertukar ganti,

Jangan dibanding diherdik janji,

 Ayuh,

Ikatkan janji,

Setialah bermula saat ini,

Rantaikanlah kaki,

Agar serentak seiring,

Setia pertiwi,

Kita ini bangsa Malaysia,

Bersatu jiwa,

Bersatu hati,

Satu suara,

Merdeka kita!!!

 deennasour ®Kelana Jaya,2007.  

<A HREF=”http://www.copyscape.com/”><IMG SRC=”http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-120×60.gif” ALT=”Page copy protected against web site content infringement by Copyscape” TITLE=”Do not copy content from the page. Plagiarism will be detected by Copyscape.” WIDTH=”120″ HEIGHT=”60″ BORDER=”0″></A>

Pautan Kekal 3 komen

aku cari

September 30, 2007 at 4:10 pm (puisiku) ()

Aku cari

hanya di purnama ini,

yang datangnya hanya sekali dalam

perjalanan di sepanjang

sebuah gurun-gurun pasir

ku cari air bagi melemaskan nafsu

yang sering merengek dahaga

ku mengintai disetiap

teluk gurun kering

adakah tulang benulang unta,

dapat ku pukul hati

yang tak henti-henti meminta,

di purama ini,

yang datangnya hanya sekali,

aku bebas dari bisa kala jengking berapi

yang bila menyuntik

kita tak rasa sakit,

nyaman tetapi bahaya,

bahaya nya beku hati,

redup tak berfungsi,

lalu,

di purnama ini,

pada malamnya sungguh berseri,

ada jalan untuk aku menyusup masuk

pada satu lorong,

yang membawa aku

ke kutub yang nyaman, sejuk,

redup nya dilindungi sayap2

makhluk bercahaya,,

wangian nya lebih harum mawar,

itu aku cari,,

 

<A HREF=”http://www.copyscape.com/”><IMG SRC=”http://banners.copyscape.com/images/cs-bk-120×60.gif” ALT=”Page copy protected against web site content infringement by Copyscape” TITLE=”Do not copy content from the page. Plagiarism will be detected by Copyscape.” WIDTH=”120″ HEIGHT=”60″ BORDER=”0″></A>

Pautan Kekal Tinggalkan Komen